i like singing*i like dreamy*i like sleeping

bla… bla… bla…

help me finish this

@TaeBrooks - Dreams Come True, my bro is so rock guys!!!!! check this out

pertanyaan dalam benak

tadi pas gw naik angkot, angkot gw lagi berenti di lampu merah.

gw duduk di depan. pas gw liat keluar jendela, gw liat tukang sapu jalanan 2 orang, yang 1 masih muda.

gw kepikir, ya ampun kasian ya masih muda jadi tukang sapu jalanan. dan gw reflek nengok ke supir yang ada di sebelah gw yang pake seragam.

dan gw kepikir lagi, supir ini berseragam, tukang sapunya juga berseragam. tapi status mereka beda banget.

kenapa si tukang sapu ini ga jadi supir angkot aja yah? toh gaji supir angkot ga buruk-buruk amat ko kalo dipikir.

trus gw diem, setelah itu gw baru sadar, oh iya, kalo tukang sapu ganti kerjaan jadi supir angkot, ntar yang sapu in jalanan dan yang membuat jalan keep in clean syapa?

gw mikir, gila yah… kalo ngomongin capeknya supir angkot, kata syapa tukang sapu jalan ga capek?

dan kalo ngomongin kesehatan, gw rasa lebih sakit tukang sapu, yang diterikin matahari, disiramin asep knalpot, dikadoin sampah bungkusan dkk sama pejalan kaki, pengendara mobil-motor, dibedakin debu.

timbul pertanyaan dalam benak gw, kenapa gaji mereka ga setara supir angkot (setidaknya)?

gw ga heran kalo mereka dateng ke mobil-mobil ato ke motor-motor untuk minta uang…

kadang masih pagi pukul stengah 7 pas gw naek angkot pun mereka udah pada berkeliaran dijalan nyapuin daun-daun kering DENGAN SERAGAM MEREKA. kapan mereka bangun ya???

buat yang baca ini, tolong deh, hargai mereka, apa jadinya kota kita tanpa mereka? gw ga perduli dengan komentar kalian yang ga membangun kesadaran diri. tapi gw tetep menghargai kalian karna kalian mau baca text post gw. Thank you

@TaeBrooks Mistletoe and I’m Yours Mashup 

where’s rain?

ROZEVE DENGAN SEKOLAH MENYEBALKAN

Di sebuah kota yang bernama Velozca, ada seorang anak bernama Rozeve Vacher. Ia mempunyai 3 saudara, pertama laki-laki, kedua dan ketiganya perempuan. Mereka adalah kakak-kakak Rozeve. Rozeve biasa di panggil Rove di lingkungannya. Sehingga kemana dia pergi, ia terbiasa memperkenalkan dirinya dengan panggilan Rove.

Pada usia 9 tahun Rove berpindah sekolah di kota besar di daerah Wenusflovica, lebih tepatnya Wenusflovica Timur. Rove bersekolah di Sekolah Dasar Ceror, sekolah yang cukup terkenal dibanyak daerah, karena sekolah itu memiliki banyak cabang. Seperti kebanyakan anak-anak, Rove merasa belum nyaman dengan sekolah barunya itu. Dia merasa teman-temannya kurang berkawan dengannya.

Suatu hari saat pelajaran, Rove di hampiri gurunya, ”Rozeve, kemarin kamukan tidak masuk dan tidak ikut ulangan kecil. Kemarin saya mengadakan ulangan secara lisan. Sekarang saya mau bertanya, menurut kamu tulang hidung itu jenis tulangnya apa? Rawan atau keras?” ucap Lecth Perfo. Rove yang terkejut dengan kedatangan Lecth Perfo, dibuat lebih terkejut dengan pertanyaan yang membuat dia kebingungan.

 

Lecth adalah panggilan untuk pengajar perempuan, sedangkan Lesth adalah panggilan untuk pengajar laki-laki.

 

“Rawan atau keras?” tanya guru itu lagi yang seperti tidak mengizinkan Rove untuk berpikir sejenak, ”Mmm… rawan bu!” kata Rove dengan meraba hidungnya sambil di goyang-goyangkan. Guru itu tertawa ‘ngenye’ sambil berkata dengan keras, ”Anak-anak, tulang hidung itu jenis tulang apa?” serempak semua murid menjawab, ”Keras bu!!!” Lalu guru itu berkata pada Rove, ”Heh kamu bagaimana sih masa tulang rawan!” sambil tertawa kecil.

”Ih bu, kalo tulang hidung keras, kenapa bisa di bengkokin?” tanya Rove sambil membengkokkan hidungnya lagi untuk pemastian. “Eh kamu sudah salah, ngeyel lagi! Saya inikan guru! Yang ngajarin kamu! Tahu?!” kata Lecth Perfo tidak terima dengan tentangan Rove. Karena merasa takut dengan bentakkan itu, Rove tidak menjawab apapun. Hal itu menjadi pikiran Rove. Sesampai di rumah Rove bertanya kepada kakaknya, ”Ka, tulang hidung itu jenis tulangnya apa? Rawan atau keras?”

            “Ya rawanlah! Memangnya kenapa nanya begituan?” kata kakak keduanya bingung, ”Lagian tumben banget nanya begituan?” Rove diam sejenak sambil mengerutkan keningnya, ”Tadi guru Rove bilang kalau hidung itu tulang keras! Aneh!? Kan harusnya rawan ya ka?” jelas Rove kepada kakaknya dengan kebingungan. “Trus masa dia ngetawain Rove karena Rove bilang kalo hidung itu tulang rawan” tambah Rove.

 

Kakaknya lalu menjawab, ”Kamu memang benar, gurunya aja yang ngaco! Bilang aja dia yang nyari kesalahan orang lain. Udah jelas dia yang salah. Mungkin tulang hidung dia keras kali! Kayak pendapatnya yang gak bisa di ganggu,” canda kakaknya. Lama setelah kejadian itu, Rove merasa kalau Lecth Perfo sedikit galak kepadanya dalam mengajar, ”Bu, lecth Rove galak banget, dia suka marahin Rove terus!” adu Rove ke ibunya. Mendengar hal itu ibu Rove mengadu ke Himpe Sluis Relivana, karena ibu Rove merasa tidak setuju dengan tindakan seorang lecth yang suka marah kepada murid. 1 hari sesudah pengaduan itu, Rove dipanggil letchnya ke dalam kelasnya yang kosong, karena teman-teman Rove yang lain sedang berbaris di luar.

 

            Himpe adalah panggilan untuk seorang kepala sekolah.

 

            “Eh, kamu bilang saya ini galak ya?” kata Lecth Perfo seperti tidak bersalah, ”Iya bu, bukannya memang ibu itu galak?” kata Rove dengan rasa takut dan deg-degan. “Eh asal kamu tahu ya, kalo saya galak, pasti banyak orangtua mengeluh, tau?!” katanya dengan tanpa rasa salah, sambil menatap tajam muka Rove dan melotot. “Lagipula… saya galak gimana?” tanya guru itu memberi Rove kesempatan menjelaskan yang walaupun ia tetap tidak akan menerima pendapat Rove, ”Ibu suka cari kesalahan saya, marahin saya,” kata Rove sambil menunduk dan tidak berani menatap Lecth Perfo. “Hahaha! Hei kamu denger ya,  semua murid juga saya marahin kok kalo salah,” kata lecth itu dengan percaya diri sekali.

“Tapi buktinya, saya ga pernah lihat ibu sering marahin murid yang lain! Misalnya saya ga ngerti pelajaran, saya di marahin,” kata Rove dengan gugup. “Oke, baik saya tidak akan marah dengan kamu lagi, tapi asal kamu tahu, saya marah karena saya ingin kamu pintar. Jangan bilang saya itu galak lagi ya. Saya itu maksudnya marah demi kebaikan kamu, kalau kamu merasa ibu galak, jangan langsung lapor ke Himpe dong, tapi cerita sama ibu,” jawab Lecth Perfo yang tiba-tiba menjadi bernada rendah. Pada saat itu Rove belum mengerti bahwa Letch Perfo menjadi baik karena mungkin takut diadukan lagi perbuatannya kepada Himpe Sekolah Dasar Ceror. Semenjak kejadian itu, Rove sering ditanya oleh Letch Perfo apakah dia masih galak, dan itu hampir seminggu 2 kali. Rove memang tidak merasa bahwa Letch Perfo galak, namun dia menjadi muak dengan pertanyaan itu terus-menerus dilontarkan.

Memang Letch Perfo sudah tidak galak, namun Rove sering di’gencet’ letch itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit di jawab olehnya. Setelah melewati masa di tingkat 2, akhirnya masa kenaikan tingkat. Sekarang Rove tingkat 3, ”Ih kelas ini aneh banget orang-orangnya!” gumam Rove karena merasa tidak nyaman. Mungkin karena Rove bertemu dengan murid yang baru lagi, karena di angkatan Rove kelasnya terbagi menjadi 3 kelas.

Walaupun ia tidak suka, ia tetap belajar di kelas itu, mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain lagi, terkecuali Rove memiliki uang sendiri dan memutuskan untuk berpindah sekolah. 3 bulan berjalan, Himpe Sluis Relivana membuat suatu keputusan baru yang tidak pernah dilakukan sebelum-sebelumnya sepanjang sejarah Sekolah Dasar Ceror. Himpe tersebut memutuskan kelas 3 di bagi 3:A, B, C.

A:Untuk anak paling pintar dan tenang.

B:Untuk anak standar dan sedikit nakal.

C:Untuk anak bodoh dan sulit diatur.

Mungkin tingkat A adalah tingkat ‘surga’, tingkat B adalah tingkat ‘bumi’, dan tingkat C… ah tidak perlu disebutkan. Tapi hal yang paling mengejutkan adalah setelah tahu bahwa Rove  ternyata masuk dalam kelas C. Yang paling lucu adalah jika ada anak yang mengalami kenaikan dalam grafik prestasi dan perbuatan, maka anak itu berhak untuk pindah ke kelas B, sampai grafiknya sempurna dia akan ditaruh di kelas A. Selain itu, setiap seminggu sekali, orangtua dari salah 1 murid di kelas C akan duduk di belakang kelas dan mengawasi perbuatan anak-anak kelas C, termasuk mengawasi perbuatan anaknya.

Di kelas C, Rove memiliki  seorang teman yang mengalami autis, namanya adalah Loy. Loy adalah anak laki-laki yang sering diganggu teman-temannya di kelas C. Mungkin pada sat itu, anak-anak kelas C pada usianya belum mengerti apa itu autis dan betapa menyedihkannya jika anak autis diganggu, mungkin bagi mereka yang normal akan menganggap itu adalah hal yang lucu. Seringkali Rove merasa iba dengan Loy yang kerjanya sering menggigit saputangan handuk hingga basah dan bau. Suatu hari, ibu Loy mengadu bahwa beberapa teman Loy mengganggu Loy. Maka Himpe Sluis datang ke kelas C untuk memanggil sembilan anak ke depan. Dan Rove menjadi salah satu anak yang ikut dipanggil ke depan.

Semua anak di kelas itu tidak ada yang tahu apa tujuan kedatangan Himpe Sluis ke kelas mereka. Setelah anak yang dipanggil ke depan sudah maju, tiba-tiba Loy dipanggil ke depan. Rove yang tidak salah tetap merasa deg-degan dan takut, mengapa dia di suruh maju. Lalu tanpa penjelasan, Himpe Sluis mencubit pinggang anak yang maju satu per satu. Rove semakin takut, dia bertanya ada apa sebenarnya. Mengapa dia harus ikut dipanggil, dan apakah dia juga akan dicubit seperti teman lainnya?

Dengan sambil mencubit pinggang, “Apa dia yang suka mengganggu kamu?” sebuah pertanyaan yang di keluarkan oleh Himpe Sluis kepada Loy, Rove sangat terkejut dan takut karena ya memang namanya juga anak-anak, Rove juga terkadang sering iseng kepada Loy namun tidak separah teman-temannya itu. Rove hanya sering iseng dalam ucapan saja, bukan dalam perbuatan. Tapi karena Rove tidak memiliki teman di kelas itu maka Rove lebih sering berbuat baik kepada Loy. Dari sekitar lima yang sudah ditanya, Loy mengiyakan sekitar tiga anak dan disuruh keluar kelas dan menghadap ke kantor Himpe.

Dan sekarang giliran Rove yang dicubit dan ditanya, “ Apa dia juga mengganggu kamu?” Rove sangat takut kalau Loy akan menjawab ya, namun dugaan salah, Loy mengatakan tidak. Tapi Himpe Sluis bertanya seperti tidak yakin, “Kamu yakin?” sambil tetap mencubit pinggang Rove, “Iya bu,” jawab Loy singkat. Akhirnya Rove lolos, tapi tetap saja Rove merasa malu karena ditonton oleh semua teman kelas Cnya ditambah dengan betapa negatifnya pikiran Himpe Sluis yang menganggap bahwa Rove salah satu anak yang senang mengganggu orang lain, dimana dia saja tidak memiliki teman.

 

Setelah sembilan anak tadi termasuk Rove diinterogasi, akhirnya gugur sekitar lima anak yang harus ke kantor Himpe. Rove tidak menceritakan hal itu kepada orang rumahnya, bagi dia itu bukan masalah yang perlu diceritakan. Musim ujian kenaikan tingkatpun tiba. Setelah ujian kenaikan tingkat selesai dan naik tingkat, ibu Rove mengeluarkan Rove dari sekolah gila itu. Gila bagi Rove, bukan ibunya. Karena ibu Rove tidak tahu secara jelas apa yang terjadi di sekolah Rove. Namun ibu Rove melihat prestasi Rove yang merosot, sehingga beliau mengeluarkan Rove dari sekolah itu. Betapa senangnya Rove karena dia berpikir bahwa dia tidak akan menginjakkan kakinya disitu lagi.

“MY JEANS” OFFICIAL VIDEO - JENNA ROSE & BABY TRIGGY 2010

sneeze

sunny sunny day…hot….